Kamis, 21 Juli 2016

LOMBA ARTIKEL POS INDONESIA

Tema : "Aku dan Pos Indonesia"
Aspek dalam Artikel :
  1. Apa yang kamu ketahui tentang Pos Indonesia
  2. Relevansi layanan Pos Indonesia bagi Remaja
  3. Saran Perbaikan atau Pengembangan bisnis yang dapat dilakukan Pos Indonesia
Ketentuan Lomba :
  1. Peserta adalah siswa/siswi SMP dan SMA (Sederajat)
  2. Usia Peserta 13 - 17 Tahun
  3. Format tulisan dalam bentuk Artikel
  4. Syarat Penulisan Artikel :
    • Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia
    • Tulisan diketik terdiri dari 1000 - 2500 kata atau maksimal 6 halaman A4
    • Ukuran Font untuk tubuh karangan 11 - 12 dengan spasi 1,5
    • Artikel harus orisinal, belum pernah dipublikasikan, dan belum pernah diikutsertakan dalam perlombaan sejenis
    • Mengikuti kaidah penulisan bahasa Indonesia yang benar
    • Artikel tidak mengandung Unsur SARA, dan ujaran kebencian yang mendiskriditkan pihak lain.
  5. Cara Pengiriman Artikel :
    • Artikel dikirim dengan pos kilat Khusus :
    • ke : Divisi Komunikasi Korporat, Graha Pos Indonesia Lantai 7A, Jalan Banda No 30 Bandung 40115
    • Pada Sudut kanan atas sampul ditulis Lomba Menulis Artikel Remaja
    • Tulis nama, alamat lengkap, nomor HP, email dan akun media sosial
    • Artikel dikirimkan paling lambat 30 Juli 2016 (Cap Pos)
  6. Peserta wajib mengshare poster Kompetisi Menulis "Aku dan Pos Indonesia" di akun sosial media masing - masing (facebook, Twitter, Instagram). Gunakan Hastag #WeCharryMission dan mention pos Indonesia
  7. Hasil Tulisan menjadi hak milik dan berhak dipublikasikan oleh PT Pos Indonesia (Persero)
  8. Hasil Keputusan Juri tidak dapat diganggu gugat
  9. Pengumuman dilakukan tanggal 25 Agustus melalui website, Facebook, Twitter dan Instagram Pos Indonesia
Hadiah Lomba :
  • Hadiah Pertama : Rp 7.000.000,-
  • Hadiah Kedua : Rp 5.000.000,-
  • Hadiah Ketiga : Rp 3.000.000,-
  • 5 Hadiah hiburan @Rp 1.000.000,-
  • (*Hadiah dikirim melalui WeselPos Instan)
Info Lebih Lanjut Silahkan Hubungi :
Twitter : @PosIndonesia
Facebook : Pos Indonesia
Instagram : posindonesia.ig

Selasa, 19 Juli 2016

NEGARA TERBARUKAN



Indonesia telah dikenal luas di dunia sebagai Negara kaya. Satu Negara maritime yang sekaligus merupakan Negara agraris. Oleh karena itu rakyat Indonesia yang berada di pedesaan dan belum secara maksimal tersentuh pembangunan tetap dapat bertahan hidup dengan baik.

Masyarakat di pedesaan memanfaatkan alam sebagai tonggak bertahan hidup. Sementara itu, hampir semua masyarakat di perkotaan telah hidup dengan modernisasi. Yang berarti membutuhkan tenaga konvensional untuk menjalankan aktifitas sehari-hari.

Contoh konkrit adalah minyak bumi sebagai bahan bakar kendaraan. Konsumen di Indonesia kebanyakan membeli bensin yang mengandung oktan lebih rendah daripada jenis pertalite atau lainnya. Selain itu, ketika anak bangsa berhasil menemukan bahan bakar alternative, pemerintah masih pasif dalam memfasilitasi.

Tentu saja hal ini sangat berkaitan. Keberlangsungan kehidupan kita bukan hanya dalam hitungan satu atau dua tahun ke depan. Jika saat ini konsumsi bahan bakar Indonesia 7 % sedangkan dunia hanya 2,4 %, maka ini akan sangat mengancam keberlangsungan energy konvensional.

Satu-satunya alternative untuk dapat mengatasi problem kekurangan energy di masa depan adalah dengan menggunakan renewable energy. Selain itu pemerintah juga harus menerapkan subsidi terhadap pembelian energy terbarukan. Harga yang murah akan lebih efektif dalam mengubah ketergantungan masyarakat terhadap energy konvesional daripada sekadar melakukan kampanye persuasive melalui media massa. Mari beralih ke energy terbarukan untuk Indonesia yang terbarukan.

Senin, 04 Juli 2016

contoh essay

ESSAY
December 25
2013

Disusun Oleh : NOR LAILI
“KADER BERPRESTASI DALAM PERSPEKTIF PII”

Description: 535816_292652084152438_355727279_n.jpg














Rounded Rectangle: PD PII KOTA KEDIRI :
Jl. Perintis Kemerdekaan no.278 Ngronggo Kota Kediri
 





DAFTAR ISI

1.      DAFTAR ISI                                                                                      2
2.      PENDAHULUAN                                                                             3
3.      PEMBAHASAN                                                                                5
4.      KESIMPULAN                                                                                  8
5.      DAFTAR PUSTAKA                                                                                    9




























A.    PENDAHULUAN
Pelajar Islam Indonesia merupakan organisasi yang berpengalaman dalam mencetak kader pelajar biasa menjadi Super student sekaligus Super Leader. Dengan berasaskan Islam sebagai dasar berpijak setiap pergerakan kader-kadernya, PII tampak menjadi organisasi yang merupakan salah satu mata rantai perjuang – gerakan umat Islam, terutama di Indonesia yang menjadi territorial da’wahnya.
Kader merupakan subyek pergerakan, dimana peran kader berkualitas akan mencetak generasi berprestasi yang berkualitas pula. Dalam setiap pergerakan, peloporan, dan perjuangan di PII, kader merupakan elemen super esensial yang dengan kehadirannya bersama kualitas-kualitas sesuai profil ideal tertentu menjadikan hal-hal nafik menjadi hadir dan ada. Hambatan dan kendala yang menjadi yang menghadang perjuangan kader dalam bergerak mengemban misi untuk mempertahankan eksistensi dan fungsi PII di masyarakat dapat terasa semu manakala kader-kader  yang mengemban amanah tersebut merupakan kader PII yang sesungguhnya.
Tujuan PII yang never ending goal yaitu “Kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi seluruh rakyat Indonesia dan segenap ummat manusia”. mengharuskan para kader pejuang untuk terus berusaha dan mengupayakan diri menjadi pejuang yang dapat diandalkan. Setiap perjuangan tentu mendatangkan hasil, pun juga dengan perjuangan para kader dalam mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu, prestasi-prestasi yang dicetak oleh PII secara organisatoris, sejatinya adalah akumulasi prestasi kader pengupayanya. PII hanyalah alat perjuangan dan wahana belajar bagi para kadernya, berjuang dan belajar tanpa kenal bosan.
“Kaderisasi di PII adalah proses sosialisasi, transformasi, dan ideologisasi tata nilai melalui system organisasi” (Falsafah Gerakan PII). Melalui ketiga proses tersebut kader-kader MCP terbentuk di atas komitmen kePIIan sehingga dapat mengoptimalisasikan fungsi dan manfaat PII untuk mengemban misi dunia Islam yang pada dasarnya merupakan representasi kewajiban setiap insane sebagai Khalifatullah yang menghambakan diri.
PII sebagai organisasi milik ummat yang memiliki ciri khas tersendiri dalam proses penggemblengannya, seperti terjelaskan di atas. Tetapi PII tetap menggunakan karakteristik bangun organisasi dalam berproses di sana. Pada dasarnya insane yang baik di mata Allah adalah mereka yang berguna bagi sesamanya, sebagaimana ditulis dalam hadits yang terletak di hirarki kedua sumber hokum PII. Prestasi yang dicetak oleh manusia adalah titik lebih tinggi dari kompetensi dan pemikirannya mengenai diri pribadi pada saat itu.  






























           

B.     PEMBAHASAN
“Kalau suatu ilmu diperbandingkan dengan ilm yang lain tentunya kita tidak akan membandingkan rumus demi rumu, karena rumus-rumus itu akan berbeda antara ilmu fisika dengan ekonomi. Yang kita perbandingkan adalah prinsip-prinsip dasarnya yang dipergunakan untuk membangun ilmu-ilmu itu” (Nataatmaja,1983)
Satu proses transformasi keilmuan akan menghasilkan suatu hasil, dimana apabila hasil tersebut sesuai atau lebih baik dari ilmu yang sebelumnya ditransformasikan, maka suatu prestasi telah dicapai. Oleh karena itu profil ideal kader berprestasi dalam suatu organisasi tentu berbeda dengan organisasi lainnya.
Di dalam PII, system kaderisasi yang beresensikan proses sosialisasi, transformasi, dan ideologisasi  yang telah berlangsung di setiap proses pengkaderan dari zaman awal kaderisasi hingga masa kini, PII kembali eksis secara terang di kalangan masyarakat umum, PII dengan system kaderisasi yang sedemikian rupa telah berhasil menelorkan kader-kader berprestasi yang sesuai dengan profil idealnya.
Profil pertama yang merupakan profil sosok kader PII berprestasi adalah “Muslim yaitu memiliki siakp ketundukan hanya kepada Allah saja dalam arti konsepsi dan cara pandang, sikap, dan aktualisasi berada dalam garis bimbingan dan Ridho Allah” (Falsafah Gerakan PII). Dengan kinerja beraqidah Islam yang kuat, beribadah sesuai perintah Allah SWT dan Sunnah Rasulullah SAW, serta berakhlaqul karimah, kader PII dapat membentuk profil Muslim di jiwanya.
Untuk dapat menciptakan sosok Muslim tersebut perlu suatu pembelajaran yang berkesinambungan dan kontinyu, mengingat kondisi kebanyakan pemuda maupun pelajar di sekitar berperilaku tidak Islami, meskipun sesungguhnya berstatus Muslim. Kemudian daripada itu, menjadikan da’wah sebagai suatu kegemaran meruapakan satu langkah pertama demi kader berprestasi yang sesuai dengan perspektif PII. PII organisasi independen, berasa Islam, pengupaya Izzul Islam Wal Muslimin, dan PII yang membina anggotanya di jalan Allah dan semakin dekat dengaNYA.
Syaikh Abdul Aziz berkata “Sesungguhnya menjadi kebutuhan, bahkan sesuatu yang mendesak pada hari ini untuk bekerja sama, berkongsi, dan saling mendukung untuk urusan yang besar ini (da’wah), lebih dari masa-masa sebelumnya. Karena musuh Allah bersatu dan saling bahu-membahu dengan segala cara untuk memalingjkan orang-orang dari jalan Allah dan membuat keraguan dalam masalah agama. Mereka mengajak manusia kepada apa yang membuat mereka keluar dari agama Allah. Maka, wajib bagi setiap muslim untuk menandingi kegiatan atheis ini dengan kegiatan yang Islami dan da’wah Islamiyah dalam segala tingkatan, dengan semua sarana jalan yang memungkinkan. Dan ini termasuk menjalankan apa yang diwajibkan Allah kepada hambaNYA, yakni berda’wah ke jalan Allah” (As-Sa’dun, Daarul Wathan:18).
“Dengan demikian, ini merupakan kesempatan besar untuk menyelamatkan siapa saja yang bisa anda selamatkan dari perahu yang semakin tenggelam di lautan kekafiran dan kesesatan, kejahilan dan keraguan, kesedihan, dan kekalutan atau dari berbagai ancaman, larangan dan musibah” (Al-Aidan, 21 : 2005).
Ketika kita telah berhasil menyelamatkan manusia lain, terutama yang dekat dengan kita dari jurang hitam, maka hal itu dapatlah disebut suatu prestasi atas keMuslimannya. Jadi, untuk dapat menghasilkan prestasi, suatu ilmu haruslah diyakini kebenarannya, kemudian baru diamalkan. Karena banyak kader perjuangan yang ragu akan apa yang sedang dijalaninya, lalu kemudian tugas mulia warisan para Nabi dan Rasul itu tidak dapat menghasilkan prestasi apapun. 3 kinerja kader Muslim haruslah termanifestasikan dalam setiap sikap dan tindaknya.
Kriteria kedua adalah kader “cendekia dalam arti upaya meneladani sifat Fathanah Nabi, sehingga memiliki wawasan dan antisipasi yang luas serta kerangka metodologi yang kuat sehingga dapat menangkap dan memahami keberanian, mengkonseptualisasikan dan mengaktualisasikannya secara komprehensif” (Falsafah Gerakan PII). Wujud prestasi dari seorang kader Cendekian adalah memiliki kinerja gemar baca, tulis, diskusi sebagaimana Firman Allah yang pertama dalam Q.S Al-Alaq ayat 1-5 yang berbunyi “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dian telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak iketahuinya”.
Dengan demikian kebiasaan baca, tulis, diskusi telah terpadukan dengan profil sebelumnya, Muslim. Yang kedua adalah mampu merumuskan serta menyampaikan gagasan baik secara lisan maupun tulisan. Dengan cara inilah kader dapat berda’wah secara sistematis dan ilmiah terhadap segala elemen masyarakat.
Seorang cendekiawan Muslim haruslah memilki prestasi dan karya. Hal ini merupakan manifestasi dari ability dan kerja keras. Ketika seorang kader berkemampuan untuk bekerja keras sesuai dengan koridor yang ada, sudah barang tentu suatu karya dan prestasi akan lahir, entah dalam bentuk apapun dan seberapa besar.
Profil sebagai pemimpin berarti memiliki sikap dan kemampuan sebagai seorang Pemimpin yang berani dan bertanggung jawab, yang mampu mengambil keputusan secara tepat dan mengelola potensi lingkungannya menjadi sesuatu yang bernilai dalam aktualisasi kekhalifahannya, (Falsafah Gerakan PII). Dengan 3 kinerja yang tidak dapat terpisahkan dari Muslim dan Cendekia, kader Pemimpin memiliki kinerja sebagai pelopor dan mandiri. Hal ini dapat pula diartikan sebagai upaya pendekatan diri terhadap sifat-sifat Allah. Yaitu Yang Maha Mengawali dan Maha Berdiri Sendiri. Upaya ini tentunya tetap berada dalam koridor manusia sebagai Makhluk Allah, bukan tandingan. Sekalipun manusia diciptakan dengan beberapa keunggulan yang tak terbantahkan jika dibandingkan makhluk lain.
“Kemandirian adalah bukti ketulusan bergabungnya seseorang dengan da’wah dan indicator pemahaman yang tinggi terhadap agama dan da’wahnya. Kemandirianlah  yang memicu da’wah untuk terus maju, memotivasi aktivis untuk melakukan inovasi, dan mengembangkan da’wah dalam segala bidang. Sebab, para aktivis bisa bergerak secara mandiri dan proaktif dengan realitas sekelilingnya,” (Abduh, 151 : 2009).
Seorang pemimpin sebagai pemecah amanah dan masalah merupakan kinerja kedua daripada kader pemimpin. Kader yang menyadari akan amanahnya dan bertanggungjawab dengan mengambil resiko penuh. Untuk dapat menyelesaikan masalah dalam pengembananan misi yang dibawa seorang pemimpin akan menghadirkan tindakan-tindakan cerdas sebagai upaya problem solving. Untuk itu, fungsi kader cendekia telah dijalankan di dalam kinerja Pemimpin ini.
Selanjutnya seorang kader pemimpin harus visioner. “Jelasnya, bahwa ketaatan kepada Allah SWT dan RasulNYA dengan menyerahkan keputusan kepada Allah SWT merupakan motif kebahagiaan yang nyata, baik untuk kehidupan sekarang maupun yang akan datang ” (Al-Jauziyah,97:1999). Kepemimpinan yang berkinerja seperti tersebut di atas harus termanifestasikan dalam sikap kader yang berjiwa Pemimpin.
Setiap kader PII yang berprestasi tentulah memiliki dan memegang Tri Komitmen kader sebagai tugas dan Tanggung Jawab yang diamanahkan kepada diri sendiri. PII yang terus eksis dari komitmen kader-kadernya akan kePelajaran, keIslaman, dan keIndonesiaan yang kuat telah menjadikan PII sebagai kendaraan dari subyek perjuangan yang visioner dan never ending goal, yang kemudian melahirkan banyak kader berprestasi di bidangnya.
Sebagaimana “kecerdasan seseorang tidak mungkin dibatasi oleh indicator-indikator yang ada dalam achievement test (tes formal). Sebab setelah diteliti, ternyata kecerdasan seseorang itu selalu berkembang (dinamis) tidak statis”(Chatib, 71:2011). Maka “Sumber kecerdasan seseorang adalah kebiasaannya untuk membuat produk-produk baru yang punya nilai budaya (kreatifitas) dan kebiasaannya menyelesaikan masalah secara mandiri (problem solving)” (Chatib, 71:2011).
Oleh karena itu prestasi yang dihasilkan oleh seorang kader hendaknya diukur dari kompetensi dan kreatifitas yang dimilikinya.
























C.    KESIMPULAN
“Aktivis da’wah yang selalu menunggu penugasan dan perintah sebelum bergerak dan beraktivitas adalah aktivis mandul yang tidak inovatif dan tidak produktif,” (Abduh, 151 : 2009). Maka untuk menciptakan kader yang berprestasi, si kader haruslah bersikap proaktif dalam setiap aksi-reaksi dalam medan perjuangan, hal ini akan melahirkan satu prestasi tersendiri jika dibandingkan dengan aktivis-aktivis yang kurang peka dan responsive terhadapa kondisi lingkungan sekitar.
Kader berprestasi menurut perspektif PII adalah kader yang dapat menyeimbangkan pertumbuh-kembangan jiiwa Muslim, cendekia, Pemimpin dalam jiwanya dengan tetap bersikap proaktif dalam memegang Tri Komitmen PII dalam rangka mengoptimalkan fungsi dan manfaat PII (Catur Bakti PII).























D.    DAFTAR PUSTAKA
v  Falsafah Gerakan PII
v  Chatib, Munif. Sekolahnya Manusia. Bandung : Kaifa. 2002
v  Nataatmaja, Dr.Ir.Hidajat. Membangun Ilmu Pengetahuan Berlandaskan Ideologi (Al-Bayyinah). Bogor : Iqra.1983
v  Abduh, Muhammad. Komitmen Da’I sejati. Jakarta : Al Hisham Chaya Ummat. 2009
v  Abdul Aziz Al Aidan, Abdullah bin. Da’wah sebagai Hobi mungkinkah?. Surabaya : seLBA.2005

MENGADILI DIRI


 source pic : https://www.google.co.id/searchq=AIRMATA&espv=2&biw=1366&bih=623&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwj2k9XksdvNAhXJKY8KHbEoBfYQ_AUIBigB#imgrc=lb78cSA7h3DPhM%3A


Airmata kembali memenuh
Kusam muka masih keruh
Tuhanku dimana keadilanMu ?
Hingga aku sempat berpikir
Engkau pergi waktu aku menepi
Dari restuMu aku menjauh
Seakan memang tak lebih penting dari peluh
Atau malah tak putus ku mengeluh
Perih sedikit menjerit lirih
Lelah melanda aku berduka
Menundukkan kepala
Tuhan Kau ada dimana ?
Mengapa semesta mengadiliku sebegini kejamnya
Jatuh banyak hitungannya
Dan aku masih menahan diri
Tapi aku lebih salah lagi
MenyalahkanMu seakan aku Maha Benar
Membuang karuniamu sehabis lupa rasanya
Entah berdiri atau merangkak
Ingin kuhampiriMu
Bukan saja dalam sujud
Bolehkah aku menyapamu dalam keramaian
Kesibukan dan sempitnya waktuku
Bayang-bayang segala rupa
Dan aku masih saja tak bisa tertawa
Aku perlu melulu bertemu Engkau
Dalam tiap kedip mataku
Dan denyut nadiku
Aku perlu oh Tuhanku
                        Atau Kau mau aku mengadili diri ?
                        Atau haruskah aku merasa duka dunia dahulu ?
                        Atau hanya cukup bersimpuh meratapi masa lalu ?
Tuhanku ini aku
Makhlukmu