|
ESSAY
|
December 25
2013
|
|
|
Disusun Oleh : NOR LAILI
|
“KADER BERPRESTASI DALAM PERSPEKTIF PII”
|
|
|
|
|
DAFTAR
ISI
1. DAFTAR
ISI 2
2. PENDAHULUAN 3
3. PEMBAHASAN 5
4. KESIMPULAN 8
5. DAFTAR
PUSTAKA 9
A.
PENDAHULUAN
Pelajar Islam Indonesia merupakan organisasi yang
berpengalaman dalam mencetak kader pelajar biasa menjadi Super student
sekaligus Super Leader. Dengan berasaskan Islam sebagai dasar berpijak setiap
pergerakan kader-kadernya, PII tampak menjadi organisasi yang merupakan salah
satu mata rantai perjuang – gerakan umat Islam, terutama di Indonesia yang
menjadi territorial da’wahnya.
Kader merupakan subyek pergerakan, dimana peran
kader berkualitas akan mencetak generasi berprestasi yang berkualitas pula.
Dalam setiap pergerakan, peloporan, dan perjuangan di PII, kader merupakan
elemen super esensial yang dengan kehadirannya bersama kualitas-kualitas sesuai
profil ideal tertentu menjadikan hal-hal nafik menjadi hadir dan ada. Hambatan
dan kendala yang menjadi yang menghadang perjuangan kader dalam bergerak mengemban
misi untuk mempertahankan eksistensi dan fungsi PII di masyarakat dapat terasa
semu manakala kader-kader yang mengemban
amanah tersebut merupakan kader PII yang sesungguhnya.
Tujuan PII yang never ending goal yaitu “Kesempurnaan
pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi seluruh rakyat
Indonesia dan segenap ummat manusia”. mengharuskan para kader pejuang untuk
terus berusaha dan mengupayakan diri menjadi pejuang yang dapat diandalkan.
Setiap perjuangan tentu mendatangkan hasil, pun juga dengan perjuangan para
kader dalam mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu, prestasi-prestasi yang
dicetak oleh PII secara organisatoris, sejatinya adalah akumulasi prestasi kader
pengupayanya. PII hanyalah alat perjuangan dan wahana belajar bagi para
kadernya, berjuang dan belajar tanpa kenal bosan.
“Kaderisasi di PII adalah proses sosialisasi,
transformasi, dan ideologisasi tata nilai melalui system organisasi” (Falsafah
Gerakan PII). Melalui ketiga proses tersebut kader-kader MCP terbentuk di atas
komitmen kePIIan sehingga dapat mengoptimalisasikan fungsi dan manfaat PII
untuk mengemban misi dunia Islam yang pada dasarnya merupakan representasi
kewajiban setiap insane sebagai Khalifatullah yang menghambakan diri.
PII sebagai organisasi milik ummat yang memiliki ciri
khas tersendiri dalam proses penggemblengannya, seperti terjelaskan di atas.
Tetapi PII tetap menggunakan karakteristik bangun organisasi dalam berproses di
sana. Pada dasarnya insane yang baik di mata Allah adalah mereka yang berguna
bagi sesamanya, sebagaimana ditulis dalam hadits yang terletak di hirarki kedua
sumber hokum PII. Prestasi yang dicetak oleh manusia adalah titik lebih tinggi
dari kompetensi dan pemikirannya mengenai diri pribadi pada saat itu.
B.
PEMBAHASAN
“Kalau suatu ilmu diperbandingkan dengan ilm yang
lain tentunya kita tidak akan membandingkan rumus demi rumu, karena rumus-rumus
itu akan berbeda antara ilmu fisika dengan ekonomi. Yang kita perbandingkan
adalah prinsip-prinsip dasarnya yang dipergunakan untuk membangun ilmu-ilmu
itu” (Nataatmaja,1983)
Satu proses transformasi keilmuan akan menghasilkan
suatu hasil, dimana apabila hasil tersebut sesuai atau lebih baik dari ilmu yang
sebelumnya ditransformasikan, maka suatu prestasi telah dicapai. Oleh karena
itu profil ideal kader berprestasi dalam suatu organisasi tentu berbeda dengan
organisasi lainnya.
Di dalam PII, system kaderisasi yang beresensikan
proses sosialisasi, transformasi, dan ideologisasi yang telah berlangsung di setiap proses
pengkaderan dari zaman awal kaderisasi hingga masa kini, PII kembali eksis
secara terang di kalangan masyarakat umum, PII dengan system kaderisasi yang
sedemikian rupa telah berhasil menelorkan kader-kader berprestasi yang sesuai
dengan profil idealnya.
Profil pertama yang merupakan profil sosok kader PII
berprestasi adalah “Muslim yaitu memiliki siakp ketundukan hanya kepada Allah
saja dalam arti konsepsi dan cara pandang, sikap, dan aktualisasi berada dalam
garis bimbingan dan Ridho Allah” (Falsafah Gerakan PII). Dengan kinerja
beraqidah Islam yang kuat, beribadah sesuai perintah Allah SWT dan Sunnah
Rasulullah SAW, serta berakhlaqul karimah, kader PII dapat membentuk profil
Muslim di jiwanya.
Untuk dapat menciptakan sosok Muslim tersebut perlu
suatu pembelajaran yang berkesinambungan dan kontinyu, mengingat kondisi
kebanyakan pemuda maupun pelajar di sekitar berperilaku tidak Islami, meskipun
sesungguhnya berstatus Muslim. Kemudian daripada itu, menjadikan da’wah sebagai
suatu kegemaran meruapakan satu langkah pertama demi kader berprestasi yang
sesuai dengan perspektif PII. PII organisasi independen, berasa Islam,
pengupaya Izzul Islam Wal Muslimin,
dan PII yang membina anggotanya di jalan Allah dan semakin dekat dengaNYA.
Syaikh Abdul Aziz berkata “Sesungguhnya menjadi
kebutuhan, bahkan sesuatu yang mendesak pada hari ini untuk bekerja sama,
berkongsi, dan saling mendukung untuk urusan yang besar ini (da’wah), lebih
dari masa-masa sebelumnya. Karena musuh Allah bersatu dan saling bahu-membahu
dengan segala cara untuk memalingjkan orang-orang dari jalan Allah dan membuat
keraguan dalam masalah agama. Mereka mengajak manusia kepada apa yang membuat mereka
keluar dari agama Allah. Maka, wajib bagi setiap muslim untuk menandingi kegiatan
atheis ini dengan kegiatan yang Islami dan da’wah Islamiyah dalam segala
tingkatan, dengan semua sarana jalan yang memungkinkan. Dan ini termasuk
menjalankan apa yang diwajibkan Allah kepada hambaNYA, yakni berda’wah ke jalan
Allah” (As-Sa’dun, Daarul Wathan:18).
“Dengan demikian, ini merupakan kesempatan besar
untuk menyelamatkan siapa saja yang bisa anda selamatkan dari perahu yang
semakin tenggelam di lautan kekafiran dan kesesatan, kejahilan dan keraguan,
kesedihan, dan kekalutan atau dari berbagai ancaman, larangan dan musibah”
(Al-Aidan, 21 : 2005).
Ketika kita telah berhasil menyelamatkan manusia
lain, terutama yang dekat dengan kita dari jurang hitam, maka hal itu dapatlah
disebut suatu prestasi atas keMuslimannya. Jadi, untuk dapat menghasilkan
prestasi, suatu ilmu haruslah diyakini kebenarannya, kemudian baru diamalkan.
Karena banyak kader perjuangan yang ragu akan apa yang sedang dijalaninya, lalu
kemudian tugas mulia warisan para Nabi dan Rasul itu tidak dapat menghasilkan
prestasi apapun. 3 kinerja kader Muslim haruslah termanifestasikan dalam setiap
sikap dan tindaknya.
Kriteria kedua adalah kader “cendekia dalam arti
upaya meneladani sifat Fathanah Nabi,
sehingga memiliki wawasan dan antisipasi yang luas serta kerangka metodologi yang
kuat sehingga dapat menangkap dan memahami keberanian, mengkonseptualisasikan
dan mengaktualisasikannya secara komprehensif” (Falsafah Gerakan PII). Wujud
prestasi dari seorang kader Cendekian adalah memiliki kinerja gemar baca,
tulis, diskusi sebagaimana Firman Allah yang pertama dalam Q.S Al-Alaq ayat 1-5
yang berbunyi “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dian telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha
Pemurah. Yang mengajarkan dengan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang
tidak iketahuinya”.
Dengan demikian kebiasaan baca, tulis, diskusi telah
terpadukan dengan profil sebelumnya, Muslim. Yang kedua adalah mampu merumuskan
serta menyampaikan gagasan baik secara lisan maupun tulisan. Dengan cara inilah
kader dapat berda’wah secara sistematis dan ilmiah terhadap segala elemen
masyarakat.
Seorang cendekiawan Muslim haruslah memilki prestasi
dan karya. Hal ini merupakan manifestasi dari ability dan kerja keras. Ketika seorang kader berkemampuan untuk
bekerja keras sesuai dengan koridor yang ada, sudah barang tentu suatu karya
dan prestasi akan lahir, entah dalam bentuk apapun dan seberapa besar.
Profil sebagai pemimpin berarti memiliki sikap dan
kemampuan sebagai seorang Pemimpin yang berani dan bertanggung jawab, yang
mampu mengambil keputusan secara tepat dan mengelola potensi lingkungannya
menjadi sesuatu yang bernilai dalam aktualisasi kekhalifahannya, (Falsafah
Gerakan PII). Dengan 3 kinerja yang tidak dapat terpisahkan dari Muslim dan
Cendekia, kader Pemimpin memiliki kinerja sebagai pelopor dan mandiri. Hal ini
dapat pula diartikan sebagai upaya pendekatan diri terhadap sifat-sifat Allah.
Yaitu Yang Maha Mengawali dan Maha Berdiri Sendiri. Upaya ini tentunya tetap
berada dalam koridor manusia sebagai Makhluk Allah, bukan tandingan. Sekalipun
manusia diciptakan dengan beberapa keunggulan yang tak terbantahkan jika
dibandingkan makhluk lain.
“Kemandirian adalah bukti ketulusan bergabungnya
seseorang dengan da’wah dan indicator pemahaman yang tinggi terhadap agama dan
da’wahnya. Kemandirianlah yang memicu
da’wah untuk terus maju, memotivasi aktivis untuk melakukan inovasi, dan
mengembangkan da’wah dalam segala bidang. Sebab, para aktivis bisa bergerak
secara mandiri dan proaktif dengan realitas sekelilingnya,” (Abduh, 151 : 2009).
Seorang pemimpin sebagai pemecah amanah dan masalah
merupakan kinerja kedua daripada kader pemimpin. Kader yang menyadari akan
amanahnya dan bertanggungjawab dengan mengambil resiko penuh. Untuk dapat
menyelesaikan masalah dalam pengembananan misi yang dibawa seorang pemimpin
akan menghadirkan tindakan-tindakan cerdas sebagai upaya problem solving. Untuk itu, fungsi kader cendekia telah dijalankan
di dalam kinerja Pemimpin ini.
Selanjutnya seorang kader pemimpin harus visioner.
“Jelasnya, bahwa ketaatan kepada Allah SWT dan RasulNYA dengan menyerahkan
keputusan kepada Allah SWT merupakan motif kebahagiaan yang nyata, baik untuk
kehidupan sekarang maupun yang akan datang ” (Al-Jauziyah,97:1999).
Kepemimpinan yang berkinerja seperti tersebut di atas harus termanifestasikan dalam
sikap kader yang berjiwa Pemimpin.
Setiap kader PII yang berprestasi tentulah memiliki
dan memegang Tri Komitmen kader sebagai tugas dan Tanggung Jawab yang
diamanahkan kepada diri sendiri. PII yang terus eksis dari komitmen kader-kadernya
akan kePelajaran, keIslaman, dan keIndonesiaan yang kuat telah menjadikan PII
sebagai kendaraan dari subyek perjuangan yang visioner dan never ending goal, yang kemudian melahirkan banyak kader berprestasi
di bidangnya.
Sebagaimana “kecerdasan seseorang tidak mungkin
dibatasi oleh indicator-indikator yang ada dalam achievement test (tes formal).
Sebab setelah diteliti, ternyata kecerdasan seseorang itu selalu berkembang
(dinamis) tidak statis”(Chatib, 71:2011). Maka “Sumber kecerdasan seseorang
adalah kebiasaannya untuk membuat produk-produk baru yang punya nilai budaya
(kreatifitas) dan kebiasaannya menyelesaikan masalah secara mandiri (problem solving)” (Chatib, 71:2011).
Oleh karena itu prestasi yang dihasilkan oleh
seorang kader hendaknya diukur dari kompetensi dan kreatifitas yang dimilikinya.
C.
KESIMPULAN
“Aktivis da’wah yang selalu menunggu penugasan dan
perintah sebelum bergerak dan beraktivitas adalah aktivis mandul yang tidak
inovatif dan tidak produktif,” (Abduh, 151 : 2009). Maka untuk menciptakan
kader yang berprestasi, si kader haruslah bersikap proaktif dalam setiap aksi-reaksi
dalam medan perjuangan, hal ini akan melahirkan satu prestasi tersendiri jika
dibandingkan dengan aktivis-aktivis yang kurang peka dan responsive terhadapa
kondisi lingkungan sekitar.
Kader berprestasi menurut perspektif PII adalah
kader yang dapat menyeimbangkan pertumbuh-kembangan jiiwa Muslim, cendekia,
Pemimpin dalam jiwanya dengan tetap bersikap proaktif dalam memegang Tri
Komitmen PII dalam rangka mengoptimalkan fungsi dan manfaat PII (Catur Bakti
PII).
D.
DAFTAR
PUSTAKA
v Falsafah
Gerakan PII
v Chatib,
Munif. Sekolahnya Manusia. Bandung : Kaifa. 2002
v Nataatmaja,
Dr.Ir.Hidajat. Membangun Ilmu Pengetahuan Berlandaskan Ideologi (Al-Bayyinah).
Bogor : Iqra.1983
v Abduh,
Muhammad. Komitmen Da’I sejati. Jakarta : Al Hisham Chaya Ummat. 2009
v Abdul
Aziz Al Aidan, Abdullah bin. Da’wah sebagai Hobi mungkinkah?. Surabaya : seLBA.2005